Untukmu, yang menemaniku.
Kita ini apa?
Aku menanyaimu dengan pertanyaan yang sama berulang kali.
Tetapi, jawabanmu hanya membisu, tersenyum, dan kadang hanya menggenggam tanganku.
Aku menanyaimu dengan pertanyaan yang sama berulang kali.
Tetapi, jawabanmu hanya membisu, tersenyum, dan kadang hanya menggenggam tanganku.
Kita ini apa?
Setiap malam udara dingin menembus tulangku membalut segala rasa penasaran yang begitu besar.
Perasaanku terombang-ambing. Kita berada di antara kepastian dan penantian.
Kita?
Tunggu, aku akan tertawa sebentar.
Yah, kurasa aku harus mengganti kata ganti yang lain supaya lebih tepat. Menurutku 'kita' bukanlah sebuah kata yang cocok untuk mewakili aku dan kamu.
Setiap malam udara dingin menembus tulangku membalut segala rasa penasaran yang begitu besar.
Perasaanku terombang-ambing. Kita berada di antara kepastian dan penantian.
Kita?
Tunggu, aku akan tertawa sebentar.
Yah, kurasa aku harus mengganti kata ganti yang lain supaya lebih tepat. Menurutku 'kita' bukanlah sebuah kata yang cocok untuk mewakili aku dan kamu.
Kita ini apa?
Setiap akhir pekan kita berjalan-jalan di taman, berdua.
Menikmati suasana malam Minggu seperti sepasang kekasih.
Lalu paginya, kita akan pergi berlibur.
Kemana pun, asal kamu denganku, aku denganmu.
Setiap akhir pekan kita berjalan-jalan di taman, berdua.
Menikmati suasana malam Minggu seperti sepasang kekasih.
Lalu paginya, kita akan pergi berlibur.
Kemana pun, asal kamu denganku, aku denganmu.
Kita ini apa?
Aku lelah bertanya.
Aku lelah menunggu.
Bisakah kamu lebih tegas pada dirimu?
Atau bisakah kamu lebih dewasa menyikapi semua ini?
Mana ada gadis yang tahan dengan ketidakpastian?
Termasuk aku.
Aku lelah bertanya.
Aku lelah menunggu.
Bisakah kamu lebih tegas pada dirimu?
Atau bisakah kamu lebih dewasa menyikapi semua ini?
Mana ada gadis yang tahan dengan ketidakpastian?
Termasuk aku.
Temanku selalu menanyakan antara aku dan kamu.
Aku tidak berhak menyebut 'kita' karena itu menyakitkan.
Jangan terus-menerus begini, suatu hari aku bisa saja pergi.
Aku tidak berhak menyebut 'kita' karena itu menyakitkan.
Jangan terus-menerus begini, suatu hari aku bisa saja pergi.
Mungkin sekarang aku belum berada di titik kesadaran. Aku masih terbuta oleh cinta yang, bahkan kamu bisa merasakan itu.
Untuk kesekian kalinya, kita ini apa?
Teman? Sahabat? Pacar? Atau bukan siapa-siapa?
Teman? Sahabat? Pacar? Atau bukan siapa-siapa?